//
you're reading...
Uncategorized

Menghitung Kerugian Akibat Amblesnya Jembatan Kali Comal

Baru saja dapat info (7 Agustus 2014) bahwa tarif expedisi untuk pengiriman dari Surabaya ke Jakarta dinaikkan 30%, itu kalo di rata-rata ongkos kirim Rp 500/kg, maka kenaikan dalam rupiah adalah Rp150/kg.

Alasan kenaikan ini, menurut pihak expedisi adalah karena rusaknya Jembatan Kali Comal, sehingga angkutan truk pihak expedisi harus memutar lewat jalur selatan yang tentu saja memerlukan jarak dan waktu tempuh lebih panjang dibanding bila angkutan truk tersebut melalui jalur pantura.

Seperti yang kita tahu, sejak Jembatan Kali Comal di Pemalang Jawa Tengah ambles sehingga tidak bisa dilalui truk (dan kendaran berat lainnya), maka angkutan barang ini dialihkan ke jalur selatan.

Iseng-iseng saya menghitung, berapa sih harga yang harus kita bayar untuk suatu “kebodohan” mis-manajemen suatu prasarana umum.

Browsing cari di google, berapa banyak barang yang dikirim melalui pantura, ternyata susah, karena BPS (Biro Pusat Statistik) tidak punya data (entah saya yang gak bisa cari atau memang gak ada). Sedikit OOT, jd inget jaman kuliah waktu cari data kebutuhan minyak atsiri di Indonesia, ternyata BPS gak punya. Cari di Deperindag, malah dikasih tulisan tangan di folio bergaris (yang tentu saja saya tolak, karena kalo tulisan tangan di folio bergaris kayak gitu, mending bikin sendiri…hehehe)

Kembali ke masalah jembatan kali comal, hasil browing akhirnya ketemu link yang kredibel, yang bisa saya ambil sebagai asumsi silakan klik. Dari artikel tersebut disebutkan barang yang dikirim melalui pantura sekitar 1 juta ton per tahun. Yang bila dibagi 12 bulan kurang lebih sama dengan 83.300 ton/bulan atau 2700 ton/hari.

Bila ongkos expedisi dari tarif normal Rp500/kg, naik 30% yaitu  Rp150, maka total uang yang biaya tambahan yang keluar adalah 2.700.000 x Rp150 = 450 juta/hari (hampir setengah milyar). Jadi kalo perbaikan jembatan kali comal ini, seperti yang diinfokan membutuhkan waktu 3 bulan (90 hari), maka “uang yang akan kita hamburkan” sekitar Rp40 Milyar.

Kenapa saya bilang menghamburkan? Karena dalam situasi ini tidak ada yang diuntungkan. Pihak expedisi juga tidak lebih untung, karena tentu saja kenaikan tersebut habis untuk biaya bahan bakar dan mengganti waktu tempuh yang lebih lama.

Yang jelas, kita menghamburkan uang tersebut untuk tambahan biaya bahan bakar karena kita harus lewat jalur yang memutar.

Kerugian tersebut belum termasuk, dari terganggunya kegiatan ekonomi akibat dari rusaknya jembatan kali comal tersebut.

Semoga kita bisa belajar banyak dari kasus ini.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anda pengunjung ke:

  • 27,593

Kalender tanpa pasaran

August 2014
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kontak via YM

Facebook

Visitors

%d bloggers like this: