//
you're reading...
Uncategorized

Benarkah PDIP Menolak Rencana Penutupan Dolly?

Ketika di media sosial banyak komentar negatif bahwa Capres Jokowi didukung PDIP yang mendukung penolakan penutupan lokalisasi dolly, saya sempat bertanya-tanya benarkah langkah yang diambil PDIP atas kasus penolakan ini ?
Saya mencoba googling kasus penolakan penutupan lokalisasi dolly dan hampir semua media online menulis bahwa penolakan ini digagas oleh Wisnu Sakti Buana (WSB) yang merupkan wakil walikota Surabaya. Tentu saja saya cukup terkejut mengingat saya merasa cukup dekat dengan WSB ini. Masa sih WSB sampai sedemikian gigih mempertahankan dolly?

Sampai pada satu kesempatan, kami ada kesempatan ngobrol-ngobrol santai saat sarapan bersama, dan saya bisa menanyakan langsung sikapnya terkait dolly.
Kalo dalam format wawancara, kurang lebih seperti ini:
(Sebenarnya ngobrolnya dalam bahasa jawa suroboyoan, tapi saya terjemahkan saja dalam bahasa Indonesia dan tolong jangan dipersepsikan suatu wawancara yg kaku)

P (penulis) : Di media, terutama media online PDIP dianggap partai yg ingin mempertahankan dolly.. masa gitu sih ?
W (Wisnu) : Siapa yg mau mempertahankan? Sikap kita (PDIP) adalah, perhatikelanjutan warga terdampak. Pemkot jangan asal tutup saja.
P : Jadi penutupan sebenarnya belum siap? Di berita, bukannya pemkot menyatakan PSK dan Mucikari sudah diberi pelatihan dan modal usaha ?
W : Itu yang kena dampak apa hanya PSK dan mucikari saja? Lha warga sekitar yang biasanya pekerjaannya jual nasi, tukang cuci pakaian dll mau dikemanakan?
Dan yang lebih mengkhawatirkan, pelatihan menjahit untuk bekal ketrampilan, hanya diberikan selama 3 hari saja. Dapat apa orang yang diajari menjahit selama 3 hari? Kalo seandainya nanti mereka diberi modal mesin jahit, apa 1 bulan kemudian gak dijual mesin jahitnya buat makan?
P : Bukannya saran tersebut bisa disampaikan ke Bu Risma?
W : Sudah saya sampaikan ke beliau, saya kasih saran, sebaiknya kepala dinas sosial mendata semua warga sekitar yang kena dampak penutupan didata tiap RT, tiap RW, kita juga tahu, tidak semua warga kena dampak. Contohnya, warga yang kerja di pabrik, gak ada urusan sama ditutupnya Dolly. Tapi yang kena dampak seperti tukang cuci dll yang saya sebutkan tadi ya harus didata dan diberi solusi juga. Ibarat sebuah pabrik yang mau ditutup karena pencemaran lingkungan tentu tetap harus dipikirkan nasib semua pegawainya. Tidak hanya bagian produksi saja, atau pemilik pabrik tetapi bagian gudang, satpam, accounting dll harus mendapatkan perhatian yang sama bagaimana kelangsungan hidup mereka selanjutnya.
P : Terus bagaiman tanggapan Bu Risma?
W : Ya saya kan hanya wakil. Beliau (Bu Risma) menganggap penanganan dari dampak penutupan tersebut sudah cukup. Ya sudah, keputusan ada di tangan beliau. Tapi saya tahu kondisi di lapangan masih belum banyak menyentuh warga yang kena dampak penutupan secara keseluruhan.
P : Tapi tanggapan dari masyarakat menganggap PDIP melindungi tempat maksiat.
W : Ini memang repotnya, adalah yang kita tutup tempat maksiat, sehingga ketika kita mengajukan pendapat yang berbeda, langsung dianggap melindungi tempat maksiat tersebut. Bahkan bisa dikaitkan sebagai anti Islam dan sebagainya, apalagi menjelang pilpres, isyu agama adalah komoditas yang luar biasa. Kembali ke rencana penutupan Dolly, sebagai info, penutupan lokalisasi Bangunsari (lokalisasi lain di Surabaya) membutuhkan waktu 8 tahun. Jauh sebelum Bu Risma menjabat walikota, sudah ada beberpa orang yang dengan tulus (penulis lupa nama orang-orangnya) melakukan pendampingan pada PSK, pemilik wisma dan warga sekitar di sana. Penutupan dilakukan bertahap, yaitu 1 gang dari delapan gang yang ada, kemudian 1 gang lagi, demikian seterusnya. Jadi ketika Bu Risma menjabat, ya memang tinggal menutup gang terakhir saja.
P : Jadi PDIP tidak menentang penutupan? (pertanyaan konfirmasi)
W : Tidak menentang. Yang kita tentang sikap semena-mena, yaitu tidak adanya penanganan yang konsisten terhadap warga terdampak.
P : Kira-kira, bagaimana bentuk penanganan yang konsisten tersebut?
W : Contoh ya.. Untuk tukang cuci, kita data berapa penghasilan mereka dari hasil terima cucian disana. Kita belikan mesin cuci. Kemudian kita kumpulkan pengusaha hotel seluruh surabaya, kita tanya apa standard pencucian baju dari hotel, standard-standard tersebut kita ajarkan pada warga tukang cuci pakaian tersebut. Karena pekerjaan cucian dari hotel-hotel ini kan sebagian bisa diberikan pada warga yang pekerjaannya tukang cuci tersebut. Pemkot bisa menjadi jaminan untuk standard kualitas hasil cucian dan sebagainya. Pemkot lah yang menjadi fasilitator antara pihak hotel dan warga yang belum pengalaman dalam mengerjakan cucian dari hotel.
P : Terus bagaimana dengan rencana warga sekitar dolly yang akan demo untuk menentang penutupan tanggal 19 Juni besok? Apa warga memang tidak mau keluar dari tempat “maksiat” tersebut.
W : Sebagai wakil walikota saya akan tunduk pada keputusan walikota. Tapi saya tetap akan memperjuangkan keinginan warga sekitar agar kelangsungan hidup mereka diperhatikan oleh pemkot. Mengenai warga yang tidak mau keluar dari kehidupan maksiat, saya ganti tanya, siapa sih yang mau hidup di lingkungan maksiat? Kalo ada pilihan lain, pasti mereka mau, gampang kok, kita dengar apa mau mereka. Kita tampung, kita hitung kemampuan kita di pemkot, kita sodorkan ke mereka, biar mereka menghitung, demikian seterusnya sampai ketemu solusi yamg tepat. Kurang lebih seperti waktu Pak Jokowi memindahkan PKL di Solo lah.. (catatan: Pak Jokowi sukses memindahkan PKL di Solo tanpa penolakan setelah “rundingan” dengan cara makan-makan berkali-kali)
P : Kalau seperti itu ya lama dong. Masyarakat jadi menilai, sebenarnya warga ini bersedia ditutup atau hanya sekedar mengulur waktu.
W : Gak lah.. mereka manusia juga kok. Kalo ada pilihan pekerjaan normal ya pasti pilih normal lah..

Demikian kira-kira hasil obrolan dengan Wisnu Sakti Buana, wakil walikota surabaya. Penulis merasa lega, karena ternyata apa yang penulis pikirkan bahwa Wisnu menolak penutupan dolly karena melindungi pemilik wisma dan PSK adalah salah.
Penulis juga merasa malu, karena selama ini tidak pernah turun ke lokasi untuk melihat dan mendengar secara langsung bagaimana sebenarnya keinginan warga di sana.
Semoga tulisan ini bisa menjadi penyeimbang dari informasi yang ada selama ini.

Bila teman-teman ada usulan atau saran yang membangun, penulis akan berusaha menyampaikan ke Pak Wawali, tentu saja pada kesempatan ngobrol santai..hehehe.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anda pengunjung ke:

  • 27,593

Kalender tanpa pasaran

June 2014
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kontak via YM

Facebook

Visitors

%d bloggers like this: