//
you're reading...
Pertanian, Tips dan opini

Teknis Budidaya Tebu

Budi Daya Tebu
TANAMAN TEBU atau dengan nama latin Saccharum Officinarum adalah termasuk golongan rumput-rumputan seperti jagung, padi, bambu, dll yang ditanam semusim di sawah atau tegal, dimana pada bagian batang berasa manis karena mengandung zat gula sehingga merupakan bahan utama untuk pembuatan gula pasir.

Kebutuhan akan tebu sekarang ini masih cukup besar. Dari informasi dan data di salah satu pabrik gula di Jawa Timur, kebutuhan tebu masih sekitar 70-80% saja dari kapasitas pabrik. Bila kapasitas pabrik 1,7jt ton per tahun, maka masih ada kekurangan sekitar 340 ribu ton pertahun. Bila 1 hektar mengkasilkan sekitar 80 ton, maka masih ada peluang sekitar 4000 hektar yg harus ditanami tebu. Dan ini hanya untuk 1 pabrik saja.

Budi daya Tanaman Tebu

Tebu adalah tanaman yang sebenarnya mudah untuk dibudidayakan. Dengan perawatan yang intensif dan perhitungan yang cermat, maka hasil akan maksimal.

1. SYARAT PERTUMBUHAN

1.1. Waktu tanam

1.1.a. Pada area penanaman yang mempunyai saluran irigasi yang baik, penanaman tebu tidak perlu mengandalkan hujan, tapi harus tetap memperhatikan jadwal giling pabrik. Karena usia panen tebu sekitar 10-12 bulan, dan jadwal giling sekitar bulan Juli hingga September, maka penanaman tebu bisa dimulai di bulan Juni dan tidak boleh lebih dari bulan Desember. Tentu saja waktu permulaan tanam ini tidak berlaku bila hasil panen tebu memang direncanakan untuk bibit.

1.1.b. Pada area dengan irigasi yang mengandalkan hujan. Tebu harus ditanam di awal musim hujan (sekitar bulan Agustus) dan terakhir di bulan Desember.

1.2. Media Tanam

a. Tebu tumbuh baik pada daerah beriklim panas dengan kelembaban lebih dari 60%.

b. Suhu udara berkisar antara 28-34 derajat C.

c. Tanah yang cocok adalah tanah subur, tidak berbatu, dengan air yang cukup.

Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl. Tetapi di beberapa tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl, tebu juga bisa tumbuh sama bagusnya dibanding yang ditanam di daerah yang lebih rendah.

2. Teknis Budidaya Tebu

2.1. Pembibitan

Bibit bisa diperoleh dari pucuk tebu sisa dari keprasan (sisa tebu yang sudah dipanen untuk digiling usia kuran glebih 12 bulan) atau diperoleh dari tanaman tebu yang memang disiapkan untuk bibit usia kurang lebih 5-6bulan. Bibit dipotong 15-20cm dengan 2-3 mata tunas. Untuk 1 hektar lahan kurang lebih dibutuhkan 6 ton batang bibit. Harga terakhir yang kami peroleh (Maret 2012) adalah 4-5jt per 6 ton sudah sampai di lahan kita (jadi tergantung jenis dan lokasi lahan). Jenis tebu yang biasa ditanam diantaranya:

2.1.a. Varietas BL. Varietas ini termasuk tahan penyakit mosaic dan blendok, tetapi agak peka terhadap pohkabung dan hama pengerek. Potensi gula yang dihasilkan varietas ini antara 120-160 kuintal per hektar

2.1.b. Varietas BZ

2.1.c. Varietas POJ

2.1.d. Varietas PS

2.2.  Pengolahan Lahan

Ada dua macam jenih lahan yang umum digunakan, yaitu lahan tegal yang mengandalkan air hujan dan lahan sawah yang sudah mempunyai saluran irigasi yang baik. Sebagaimana di awal tulisan, lahan dengan irigasi yang baik tidak memerlukan perhitungan musim hujan. Sedangkan lahan tegal, harus mempertimbangkan kapan musim hujan mulai, sehingga harus segera memulai penanaman tebu.

Untuk lahan yang mengandalkan air hujan, pembajakan dilakukan di bulan Juli-agustus sehingga ketika musim hujan tiba, lahan bisa langsung ditanami tebu.

2.3. Pemupukan

Pada umumnya tanaman tebu dipupuk 2-4 kali dari mulai ditanam hingga dipanen tergantung kesuburan lahan. Pupuk yang biasa digunakan adalah urea, pupuk cair (limbah gula tetes), dan NPK. Pemupukan pertama bisa dipakai urea dengan dosis 50kg/hektar dan dilakukan saat tanam atau maksimal 1 minggu setelah penanaman bibit selesai. Untuk pupuk dari limbah gula tetes penulis menggunakan 3-4 tangki kapasitas 5rb liter untuk 1 hektar tanaman tebu, dan dilakukan pada usia tebu 4 dan 8 bulan. Harga per tangki terakhir (Februari 2012) sekitar Rp 380rb-400rb. Setelah dipupuk seharusnya segera dilakukan pengairan agar pupuk bisa meresap ke dalam tanah

2.4. Penjarangan dan penyulaman

Dilakukan untuk mengurangi tanaman tebu yang terlalu banyak dalam satu gerombol, dan menyulam pada area-area yang jarang.

2.5. Klentek

Istilah dari bahasa jawa yang artinya membersihkan daun-daun kering dari batang tebu. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebakaran dari daun-daun kering dan juga agar tunas pada batang tidak berada pada kondisi lembab dan akan menyebabkan tumbuh. Biasanya dilakukan 3 kali ketika tebu berusia 2 bulan, 6 bulan dan menjelang dipanen. Biaya borongan untuk klentek sekitar Rp 600rb/hektar

2.6. Menimbun dan menyiangi rumput

Dilakukan ketika usia tebu 4-5 bulan. Bertujuan agar rumput tidak tumbuh terlalu banyak yang akan mengganggu penyerapan nutrisi oleh tebu. Sedangkan menimbun bertujuan agar batang tanaman tebu lebih kuat dan tidak gampang roboh.

2.7. Hama dan Penyakit

2.7.1. Hama tebu

2.7.1.a. penggerek batang garis (Proceras cacchariphagus), penggerek batang kilat (Chilitrae auricilia), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella), penggerek batang jambon (Sesmia inferens), penggerek batang abu-abu (Eucosma schismacaena)

Gejala dan akibat: daun terbuka dan mengalami khlorosis pada bagian pangkalnya; pada serangan yang parah, bentuk daun berubah, terdapat titik-titik atau garis-garis berwarna merah di pangkal daun; sebagian daun tidak dapat tumbuh lagi; kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau tidak enak.

Pengendalian: dengan suntikan Furadan 3G (0,5 kg/ha) pada waktu tanaman berumur 3-5 bulan. Pemberian Furadan 3G dilakukan jika terdapat lebih dari 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.

2.7.1.b. Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama-sama atau pengasapan belerang pada lubang yang dihuni tikus. Cara yang paling alami adalah dengan tidak membunuh predator alami tikus seperti ular, burung hantu dan burung elang.

2.7.2. Penyakit

2.7.2.a. Dongkelan

Penyebab: jamur Marasnius sach-hari.

Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian.

Gejala: Matinya tanaman tua dalam rumpun secara tiba-tiba, daun tua mengering, kemudian daun muda, warna daun menjadi hijau kekuningan dan didapati lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang.

Pengendalian: Menjaga tanah agar tetap kering.

2.7.2.b. Pokkahbung

Penyebab: Gibbrela moniliformis.

Daun merupakan bagian yang diserang, pada stadium lanjut dapat menyerang batang.

Gejala: terdapat noda merah pada bintik khlorosis di helai daun, lubang-lubang yang tersebar di daun, sehingga daun dapat robek, daun tidak membuka (cacat bentuk), garis-garis merah tua di batang, ruas membengkak.

Pengendalian: memakai bibit resisten, insektisida Bulur Bordeaux 1% dan pengembusan tepung kapur tembaga.

2.7.2.c. Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei .

Menyerang bagian daun dan bagian-bagian dengan kelembaban tinggi.

Gejala: daun muda berubah menjadi noda kuning pucat . Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur; bagian bawah tertutup lapisan putih kotor. Helai daun mati agak kehitaman.

Pengendalian: adalah dengan memangkas dan membakar daun yang terserang. Semprot dengan tepung belerang ditambah kalium permanganat.

3. Panen
Panen dilakukan setelah usia tebu mencapai 10-12 bulan. Hasil panen bisa dijual bebas atau dikirim ke pabrik untuk digiling. Perhitungan di pabrik biasanya berdasarkan rendemen gula yang dihasilkan.

Contoh: Bila tebu yang kita hasilkan dalam 1 hektar adalah 80 ton dengan rendemen tebu kita 8% maka gula yang dihasilkan adalah 6400kg dg pembagian 61 bagian (3904kg) petani/kita dan 39 bagian untuk pabrik. Bila harga gula Rp 8000 maka kita akan mendapat sekitar Rp 31juta plus uang dari tetes.

Discussion

5 thoughts on “Teknis Budidaya Tebu

  1. hrga tebu bs brubh stiap saat / dtentukn oleh suatu hl mz?
    mhn msukannya,
    saya ddaerah pati jawa tengah..
    utk proses tanam smpe tebg udh ckp phm,
    tp utk kbjksnaan prik dsni sgt mmprihatinkn…

    Posted by ipunk | August 3, 2012, 10:05 pm
    • Salam kenal mas ipunk. Tidak hanya pada petani tebu, masalah harga hasil panen, sering dikeluhkan oleh hampir semua petani di indonesia. Dari pengalaman tanam menanam berbagai macam tanaman pertanian, menurut saya, tebu masih yang terbaik dalam hal naik turunnya harga pada waktu panen.
      Harga tebu saat panen tergantung dari harga gula pada saat tersebut. Sedangkan hasil yg diperoleh petani memang tergantung dari rendemen dari tebu kita dan total tonase hasil tebu yg kita peroleh.
      Karena kita tidak bisa menentukan harga gula, cara satu-satunya adalah meningkatkan nilai rendemen dan tonase dari hasil tebu kita dengan perawatan yang intensif.
      Demikian tanggapan dari saya, semoga bisa membantu. Salam pertanian.

      Posted by ichwanmuchtaram | August 3, 2012, 11:52 pm
      • Untuk jnis Bl gula yg d hsilkan120-160 ktl gula /hectar, tp yg d bgian akhir d contoh perhitungan kok cman 80 ton tebu /hectar. Itu gmn, apa krn rendemen jnis bl sgt baek atau krn hsil tonasenya lbih bnyak. Satu lagi, klo lahan tegal jnis apa yg paling cocok, lahan yg ini saya bisa menyiraminya dgn penyedot air tp tdk bs mengaliri sperti halnya swah. Trima kasih

        Posted by Arif | September 9, 2012, 5:28 am
  2. Salam kenal mas arif. Angka 120-160 kuintal gula per hektar untuk jenis BL adalah rekomendasi dari pabrik gula. Sedangkan 80ton tebu per heltar adalah hasil di lahan saya. Pernbedaan hasil tersebut dipengaruhi oleh kondisi lahan dan cara perawatan. Untuk daerah tertentu, tebu yg dihasilkan bisa mencapai 140ton dengan rendemen mencapai 9% maka hasil gula 120 kuintal bisa tercapai. Untuk bibit sebaiknya berkonsultasi dengan PG terdekat karena jenis bibit di atas hanya sebagai contoh, masoh banyak jenis bibit yg lain yang direkomendasikan PG untuk lahan tertentu.
    Untuk lahan tegal, pemilihan bibit didasari pada pemilihan waktu tanam. Tebang awal atau tebang akhir. Konsultasikan pada PG terdekat untuk mendapatkan jenis bibit terbarudan terbaik.Untuk lahannya, saya sarankan diolah dengan penataan sawah, sehingga ketika di airi, air bisa mengalir rata ke seluruh lahan. Memang membutuhkan biaya, tp itu hanya sekali seumur hidup. Semoga membantu dan Sukses untuk anda.

    Posted by ichwanmuchtaram | September 9, 2012, 11:55 pm
  3. Trimakasih mas Ichwan
    Klo mas sendiri 80 ton itu d lhan sawah apa tegal. Di daerah saya purworejo blm ad PG , dan yg trdekat hanya ad d daerah jogja. Memang sy blm tau sama skali tentang pertanian tebu, tp sy tau tentang gula pasir krn 2 thn trakhir sy menjual gula pasir walau tdk dlm partai bsar. Itu sbabnya sy trtarik dgn prtanian tebu. Klo hubungan dgn PG, apa ada uu yg mengaturnya atau hanya kbijakan pabrik sj untuk hal menjual tebu atau titip giling dgn bagi hasil 61 kita/39 pabrik. Skali lg trima kasih.

    Posted by Arif | September 11, 2012, 6:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anda pengunjung ke:

  • 27,593

Kalender tanpa pasaran

April 2012
M T W T F S S
« Feb   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kontak via YM

Facebook

Visitors

%d bloggers like this: