//
you're reading...
Tips dan opini

In Memoriam Ir. Sutjipto (Pak Tjip)

Siang itu di akhir tahun 80an, seorang pemuda datang dari salah satu kota di Madura, datang ke rumah membawa setumpuk map berisi surat-surat rumah dan tanah. Pemuda tersebut mengaku putra H. Thoyib yang baru saja wafat. Dia berkunjung ke rumah dengan maksud melunasi hutang-hutang bapaknya . Nilai hutangnya ke Pak Tjip sekitar 90 juta rupiah (berapa nilai uang itu sekarang bila nilai emas waktu itu yang hanya Rp 25.000/gram).
“Ini surat rumah dan tanah yang keluarga kami miliki. Kami hanya bisa membayar hutang bapak dengan rumah dan tanah di Madura ini”, kira-kira demikian pemuda itu memohon kepada pak Tjip, dengan harapan hutang H. Thoyib bapaknya dianggap lunas.
“Lha, sekarang kamu dan keluarga tinggal dimana?” tanya Pak Tjip ingin tahu.
“Kalo sekarang ya di rumah yang suratnya saya bawa ini. Nantinya mau tinggal dimana kami masih belum tahu”
“Waduh, lha terus kalo kamu dan keluarga kamu gak tahu selanjutnya mau tinggal dimana ya masa mau kamu berikan ke saya”

“Kami sekeluarga tidak ingin Bapak (maksudnya H. Thoyib) punya tanggungan hutang, kasihan Bapak di alam sana nanti”, demikian putra H. Thoyib memberi alasan.
“Ya sudah, kamu bawa pulang dan kamu simpan aja surat-surat rumah kamu itu. Saya sudah anggap lunas hutang bapak kamu”, kata Pak Tjip santai.
Begitulah, akhirnya Pak Tjip menolak dibayar dan menganggap hutang bapak pemuda tersebut lunas.
Padahal di tahun itu kondisi ekonomi keluarga Pak Tjip juga jauh dari mapan. Menurut cerita, hutang itu terjadi karena Pak Tjip mempunyai suatu proyek pekerjaan sipil di Madura, mungkin untuk memudahkan administrasi, dipakailah bendera perusahaan milik H.Thoyib untuk kerjasama. Pembayaran senilai kurang lebih Rp 90juta dari pemberi proyek pun dikirim ke rekening H. Thoyib selaku pemilik perusahaan. Celakanya, ternyata H. Thoyib ternyata mempunyai tanggungan hutang di bank tersebut, sehingga uang yang masuk otomatis langsung diambil oleh pihak bank, dan H. Thoyib juga tidak tahu kalau uangnya bakal langsung “disita” oleh pihak Bank. Pak Tjip jelas kelimpungan karena bagaimanapun tagihan-tagihan dari suplier bahan bangunan dan lain-lain harus tetap dibayar. Singkat cerita, pada akhirnya Pak Tjip bisa membayar tagihan-tagihan tersebut, dan H. Thoyib yang memang tidak ada niat untuk curang juga bersedia untuk mengembalikan uang tersebut,  tetapi sayangnya hutang tersebut sampai H. Thoyib wafat masih belum terbayar sehingga keluarga H. Thoyib bermaksud menutup hutang-hutangnya dengan surat-surat rumah dan tanah seperti cerita tersebut di atas.

“Daripada saya nanti kepikiran, keluarganya mau tinggal dimana”, suatu saat Pak Tjip mengemukakan alasannya kenapa menolak untuk dibayar oleh putra H. Thoyib.

Itu adalah salah satu hal yang diceritakan Pak Tjip di salah satu waktu makan bersama keluarga. Saya tahu Bapak bukan bermaksud menyombong, tapi berharap agar yang dilakukannya dapat menjadi teladan bagi kami semua, bahwa  nilai kemanusiaan jauh lebih penting daripada sekedar harta duniawi.
Satu bulan lebih, Pak Tjip telah meninggalkan kita selama-lamanya. Tetapi begitu banyak hal yang saya merasa patut untuk meneladaninya.. Selamat Jalan Bapak… Selamat Jalan menuju keabadian..

Link yang lain tentang Ir. Sutjipto penemu pondasi sarang laba-laba klik

Discussion

3 thoughts on “In Memoriam Ir. Sutjipto (Pak Tjip)

  1. Namanya Ir. Sutjipto ……Beliau telah wafat akhir tahun 2011 yll. Namanya mulai muncul kembali gara2 pengangkatan Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana, ST yang merupakan putra bungsunya. Mas Tjipto ( begitu biasa sy panggil ) adalah sahabat saya. Banyak kenangan karena sewaktu kami melaksanakan ibadah haji th 1997 saya tidur sekamar dg beliau. Saya sempat menanyakan kpd beliau sekitar perseteruanya dg Latief Pudjosakti sehingga pada waktu itu terdapat kepengurusan ganda PDI Jatim. Setelah beliau cerita banyak peristiwa itu menurut versi beliau, Mas Tjipto menyampaikan penyesalanya karena sebenarnya beliau mempunyai niat baik untuk melakukan perdamaian dan saling maaf memaafkan dg Latief Pudjosakti di Mekah karena kebetulan Latief saat itu juga melaksanakan ibadah haji. Tapi niatan baik itu urung terlaksana karena Allah Swt telah menentukan lain. Latief Pudjosakti telah dipanggil yang maha kuasa sebelum rombongan haji kami tiba di Mekah. Dalam pelaksanaan Ibadah haji kami berenam, Saya dan isteri, Mas Tjipta dan isteri ( Mbak Sudjamik ) dan Suami isteri Mas Sartono ( dari BRI ) selalu bersama sama dan saya yg memimpin didepan. Ceriteranya unik, kami serombongan sebenarnya ada 120 orang yg dibagi menjadi 2 kelompok. Ketika kami memasuki Masjidil Haram untuk melakukan tawaf, Mas Tjip batal wudhunya karena keluar angin. Mas Tjip kemudian berwudhu dan kami berlima sambil menunggu Mas Tjip selesai kami melakukan sholat sunah Tahiyatul masjid. Setelah itu Mas Tjip juga melaksanakan sholat sunah. Sesudah kami sholat ternyata kami sudah ketinggalan rombongan. Mata kami semua jelalatan mencari cari dimana rombongan kami. Dari jauh kami melihat diantara ribuan jamaah ada yg melambai lambai. Secara koor kami teriak…Nah itu rombongan kita memanggil…dan kamipun bergegas menuju orang yg melambai itu tapi ternyata bukan. Beitu beberapa kali kami melihat lambaian orang yg kami sangkai memanggil kami setelah terkejar ternyata bukan. Akhirnya kami sadar bahwa lambaian itu bukanlah orang memanggil kami melainkan para Jemaah yg melambaikan tangannya ke Hajar Aswad. Paniklah kami berenam. Terus saya segera mengambil keputusan…” Sudah kita laksanakan Ibadah ini sendiri saja, tidak usah memikirkan rombongan.” Kemudian sy berikan petunjuk agar kita tidak terpisah kita berturut turut memegang pundak didepanya dan apabila ada yg terpisah supaya menunggu dipintu Zam Zam yg mudah dicari. Begitulah saya dipaling depan dan kelima sahabat itu mengikuti dibelakang saya dan itu berjalan terus mulai dari Umroh sampai dengan ibadah haji selesai kami berenam selalu bersama sama……..Sekarang Mas Tjip sudah tiada semoga Allah mengampuni dosa2nya, menerima amal kebajikanya, melipatgandakan pahalanya dan memberikan tempat yang semulia mulianya disisiNya. Amin Dan semoga putra bungsunya Mas Wisnu Sakti Buana bisa mengambil suri tauladan kebaikan Ayahnya untuk menyelesaikan kemelut dengan Bu Risma Walikota Surabaya………..

    Posted by Budi Rahrdjo, SH, SIP | February 19, 2014, 1:38 pm
    • Assalamualaikum Wr Wb..

      Dear Bapak Budi,

      Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas komentar Bapak dan semoga tulisan saya di bawah tidak akan menimbulkan polemik yang hanya akan mengingatkan keluarga pada Almahrum.

      Mengenai kemelut walikota surabaya, bila saya boleh berkomentar secara pribadi adalah Ibu Risma memang Walikota yang baik yang dicintai oleh warga surabaya maupun di luar surabaya.

      Dari pengetahuan saya yang kurang dalam politik, saya sebenarnya bertanya-tanya, kenapa sekarang tiba-tiba beliau mau mundur? Kalau beliau merasa tidak cocok dengan Wisnu sebagai wawali, bukankah bisa disampaikan pada saat PDIP melalui DPRD Surabaya mencalonkan Wisnu sebagai wawali.

      Saya tidak bisa mengingat, bahkan saya search di google pun tidak ada tulisan yang menyatakan Ibu Risma pernah keberatan dengan Wisnu sebagai wawali atau keberatan dengan wawali dari PDIP, atau bahkan saya tidak menemukan ada pernyataan Ibu Risma keberatan bila ada wawali Surabaya. Tidak pernah ada!!

      Kalau memang merasa tidak cocok, tertekan atau apapun alasannya, bukankah lebih mudah, ketika kursi wawali kosong, Ibu Risma menyatakan tidak mau Wisnu sebagai wawali atau tidak mau wawali siapapun dari PDIP karena PDIP banyak mengganggu pekerjaannya dan akan mundur bila dipaksakan. Bukankah hal tersebut jauh lebih mudah?

      Ibu Risma juga tinggal menyatakan, saya maunya wawali dari partai A atau B atau C. Atau bahkan, bisa mengatakan, saya tidak butuh wawali dari partai manapun! Sangat mudah, tetapi hal tersebut tidak pernah disampaikan oleh Ibu Risma. Dan seingat saya, Ibu Risma cenderung diam saja, saat pemilihan wawali di DPRD Surabaya berlarut-larut, seolah-olah Bu Risma akan menerima siapa saja wawali yang akan dipilih DPRD Surabaya untuk mendampinginya.

      Bukankah bila memang merasa PDIP terlalu “menekan” Ibu Risma bisa mengancam mundur saat itu, karena sudah jelas bahwa calon wawali adalah dari PDIP
      Dan ketika Wisnu sudah dilantik menjadi wawali, saya tahu Wisnu berusaha untuk segera sowan ke Ibu Risma tetapi Ibu Risma malah sulit untuk ditemui dan seperti menghilang karena tidak diketahui keberadaannya. Dan setelah akhirnya Wisnu bertemu dengan Ibu Risma, semuanya seperti baik-baik saja. Setelah itu tiba-tiba muncul issue Ibu Risma mau mengundurkan diri. Dan hal tersebut menjadi issue yang melebar kemana-mana, seolah-olah Ibu Risma hendak dilengserkan oleh PDIP melalui Wisnu. Itu hal yang menurut saya aneh. Padahal sepanjang yang saya tahu, berkali-kali Wisnu menyatakan akan nurut dengan semua kebijakan Ibu Risma. Wisnu menjadi wawali untuk membantu pekerjaan walikota, tidak lebih. Dan sampai issue pengunduran Ibu Risma muncul ke media, tidak ada tindakan Wisnu yang bertentangan dengan kebijakan walikota.
      Bahkan sekarang muncul issue, Ibu Risma dilengserkan karena unsur SARA (karena Ibu Risma berjilbab). Bukankah ini sudah menjadi issue yang berlebihan? Bahkan dengan issue mundur (saya sebut issue, karena belum terjadi) Ibu Risma ini, oponi masyarakat seperti digiring bahwa PDIP melalui Wisnu seolah-olah sewenang-wenang terhadap Ibu Risma dan berniat melengserkannya. Sekali lagi yang saya tidak mengerti, sewenang-wenangnya itu dimana? Pada saat calon wawali digodok di DPRD, pernahkah Ibu Risma menyatakan berkeberatan? Tidak pernah!! Dan kalau pada akhirnya PDIP menugaskan Wisnu mendampingi Ibu Risma sebagai wawali melalui mekanisme yang berlaku, Apa itu sewenang-wenang?
      Sekarang, dari beberapa masyarakat, muncul gerakan “save Risma”. Jelas, kalimat save risma ini segera diopinikan pihak-pihak tertentu menjadi “save risma dari kesewenang-wenangan PDIP”. Apakah PDIP sewenang-wenang? Jawabannya balik lagi ke tulisan saya di atas.

      Dengan data di atas, tidak berlebihan bila saya pribadi menduga bahwa mundurnya Ibu Risma sekarang adalah tidak lebih dari manuver politik, dan saya masih belum percaya Ibu Risma mau melakukan manuver politik, sehingga bisa saja, manuver tersebut atas masukan dari orang-orang di belakangnya dan dimanfaatkan orang-orang yang diuntungkan dari kemelut ini.

      Mungkin timbul pertanyaan, bukankah Wisnu pernah ikut dalam kelompok di DPRD Surabaya yang akan memakzulkan Ibu Risma?
      Saya mencoba mengurai kronologi seputar kejadian tersebut.
      Ketika Tri Rismaharini dan Bambang DH terpilih sebagai walikota dan wakil walikota Surabaya sebagai calon yang diusung PDIP, saya melihat tidak ada komunikasi politik antara Ibu Risma dan PDIP sebagai partai pengusung. Kasus tol tengah kota dan naiknya pajak reklame yang menjadi issue untuk memakzulkan Ibu Risma saat itu, tidak akan muncul bila Ibu Risma mengkomunikasikan dulu kebijakan tersebut di internal PDIP, sehingga akan ada dukungan di DPRD setidak-tidaknya dari PDIP. Saya melihat, saat itu hanya masalah kesalapahaman, dimana Ibu Risma yang berasal dari birokrat merasa bahwa sebagai walikota dia berhak membuat kebijakan apapun tanpa perlu mengkomunikasikan dengan partai manapun, sedangkan PDIP sebagai partai pengusung juga merasa bahwa kemenangan atas terpilihnya Ibu Risma sebagai walikota adalah karena mesin partai yang bekerja, dan yang saya tahu, semua kader PDIP memang bergerilya ke kampung-kampung demi kemenangan Ibu Risma menjadi walikota, sehingga hal yang wajar PDIP berharap Ibu Risma mengkomunikasikan terlebih dahulu kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan ke PDIP, sehingga PDIP tidak merasa ditinggal karena PDIP dan Ibu Risma sebagai satu kesatuan.

      Kalau Wisnu Sakti Buana dianggap bagian dari kelompok yang memakzulkan ibu Risma pun, menurut saya tidak benar, saya tahu betul, pada saat itu, Wisnu Sakti Buana berada di tengah-tengah alias tidak memihak.
      Saya ingat betul kata-kata Wisnu, sebagai ketua DPC PDIP Surabaya, sudah menjadi tugas dia (Wisnu) sebagai bapak (ketua DPC) di PDIP Surabaya untuk mengakomodasi kemauan kader PDIP di Surabaya dan Walikota dalam hal ini Ibu Risma, sehingga Wisnu tidak memihak dan berada di tengah-tengah untuk menjadi jembatan dari kedua pihak yang sedang salah paham.

      Setelah terjadi komunikasi politik, Wisnu mem-back up Ibu Risma sepenuhnya. Bahkan setelah itu hubungan Ibu Risma dengan keluarga besar Pak Tjip juga sangat baik, hal tersebut bisa dilihat ketika Ibu Sudjamik jatuh sakit dan opname di RS, Ibu Risma di tengah-tengah kesibukannya masih sempat menjenguk Ibu Sudjamik.
      Dan hingga sekarang, saya tahu betul bahwa Wisnu masih menganggap Ibu Risma sebagai walikota terbaik untuk Surabaya saat ini dan Wisnu sepertinya ingin belajar banyak dari Ibu Risma dalam mengelola kota Surabaya.

      Saya hanya berharap ini semua adalah kesalahpahaman semata, dan kemelut ini segera terpecahkan tanpa ada pihak yang dijatuhkan.

      Demikian komentar pribadi saya, semoga bisa menambah sudut pandang kita semua dalam melihat kemelut walikota di Surabaya ini. Saya yakin, sebagai putra Ir. Sutjipto, Wisnu pasti menjadikan Almahrum Ir. Sutjipto sebagai suri teladan yang baik.

      Insyaallah, cerita Bapak Budi tentang perjalanan haji bersama Almahrum Pak Tjip akan saya sampaikan ke Ibu Sudjamik.

      Salam hormat…

      Wassalamualaikum Wr Wb

      Posted by ichwanmuchtaram | February 19, 2014, 6:24 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: In Memoriam: Ir. Soetjipto « Kepingan Kakap Paling Pojok - December 30, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anda pengunjung ke:

  • 27,593

Kalender tanpa pasaran

December 2011
M T W T F S S
« Sep   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kontak via YM

Facebook

Visitors

%d bloggers like this: